Credit: Iman Katolik - Yohanes
Akhir-akhir ini sering
muncul pertanyaan di kalangan Karismatik Katolik dan Sel KTM mengenai
sah/tidaknya baptisan Gereja Katolik, dan masih banyak kasus
'penyeberangan' yang lain. Saya tidak ingin membahas hal itu, hanya
saja saya sangat prihatin, karena masih ada saja orang-orang Karismatik
yang mudah terombang-ambing dan terseret ajaran gereja lain, sayangnya
di Indonesia masih ada hamba Tuhan dari Gereja lain yang suka sekali
untuk mencari domba-domba dari gereja Katolik. SAYA TIDAK MENGATAKAN
BAHWA GEREJA NON KATOLIK YANG SALAH, TETAPI ALANGKAH BAIKNYA KALAU KITA
SALING MENGHARGAI MASING-MASING AJARAN, DAN TIDAK MEREBUT DOMBA-DOMBA
DARI KANDANG LAIN. Hal ini sesuai dengan Mazmur 133, alangkah baiknya
kalau saudara se-iman hidup rukun bersama. Saya akan share pentingnya
kesetiaan pada gereja Katolik (bukan berarti fanatisme sempit).
Singkat cerita, saya lahir dan dibesarkan
di Madiun, ketika umur 5 th kakak saya sakit dan dirawat di RS Katolik
Panti Bagiya, sampai akhirnya meninggal. Melalui rumah sakit tersebut,
kami mulai mengenal gereja Katolik (sebelumnya Papa ke Klenteng, dan
Mama di Pantekosta). Secara rutin tiap minggu para suster Misionaris Claris dari
rumah sakit itu memberikan pelajaran agama bagi kami sekeluarga,
akhirnya kelas 2 SD, saya sekeluarga dibaptis di Gereja Katolik.
Dari tahun ke tahun perkembangan kami
biasa-biasa saja, tetap ke gereja tiap Minggu, juga misa harian, tetapi
kami tidak sungguh-sungguh mengalami kehadiran Yesus yang riil dalam
kehidupan sehari-hari. Sampai ketika kelas 2 SMP, saya sekeluarga
mengalami masalah yang cukup berat, karena suatu kasus papa ditahan
selama 3 tahun. Saya benar-benar kehilangan saat itu, kehilangan figur
papa yang baik. Mama harus bekerja sendiri untuk menyekolahkan saya dan
adik.
Saya benar-benar kecewa, bahkan saat yang
sulit itu, saya memandang bahwa Gereja juga tidak memberi perhatian
serius terhadap masalah keluarga kami. Sekalipun demikian, KAMI TETAP
SETIA pada gereja.Ketika mau ke SMA (saat ini SMU), mama mengatakan
kalau berat untuk menyekolahkan saya lagi, saya mulai berpikir untuk
berhenti sekolah dan bekerja sebagai loper koran (ada teman misdinar
yang jadi loper koran juga). Tetapi Tuhan itu sungguh baik, Dia besar
dan ajaib perbuatanNya, ada satu keluarga yang mau mendukung biaya
pendidikan saya sampai selesai S1. Terus terang kami heran, keluarga
ini bukan tergolong sanak saudara, tetapi dia mau mengorbankan biaya
dan waktu untuk membimbing saya dan saya tidak jadi loper koran.
Melalui keluarga itu kelas 2 SMA saya
mulai mengenal Karismatik. Sekitar th 90an diadakan SHBDR(Seminar Hidup
Baru Dalam Roh) di Madiun, baik dari Suster Karmel maupun team BPK
(Badan Pekerja Karismatik) Surabaya datang untuk memberikan
pengarahan.Saya mulai mengalami JAMAHAN KASIH YESUS yang sesungguhnya,
saya mulai mengalami penyembuhan dari berbagai macam luka batin yang
ada sejak dalam kandungan sampai saat itu.
Tahun 1991 saya pindah ke Surabaya untuk
kuliah, di Surabaya saya bergabung dengan PD Gembala Yang Baik, karena
dekat dengan rumah. Di sini saya juga mengalami kasih persaudaraan yang
didasari oleh kasih Kristus. Selain di PD saya juga mulai bergabung
dengan sel sekitar th 1993, saat itu masih dipimpin Arthur. Dalam perkembangan ini saya
juga mulai ikut melayani di PD sebagai pemusik gitar dan saya
merasakan pertumbuhan rohani yang baik.
Dalam upaya mengembangkan PD, saya juga
mengalami berbagai benturan dari pihak romo, sering dalam kotbahnya
romo menyinggung, bahwa PD koq doa melulu tidak mau kerja sama dengan
Mudika, PD itu sok suci baca Alkitab tetapi tidak dilaksanakan, anggota
PD lebih mementingkan PD dari pada Misa harian, PD itu kalau doa ribut
sekali, bahkan pernah hampir dilarang untuk rapat di sekretariat
Paroki, dan banyak hal lainnya yang memang ada benarnya juga. Bahkan th
1997 ketika kami tidak ada tempat untuk persekutuan dan kami harus
meminjam tempat di Balai Paroki, romo-romo saat itu keberatan. Saat itu
saya berdoa sama Tuhan, "Tuhan kalau PD ini Engkau yang membangun,
Engkau juga yang menyediakan." Saya mengalami penolakan dan melalui
perdebatan, beberapa hal misalnya; romo keberatan, bahwa muda-mudi
seharusnya belajar untuk mencari Allah dalam keheningan, bukan dengan
tepuk tangan sorak sorai yang gegap gempita. Lalu saya terangkan, bahwa
dalam kehidupan sehari-hari, kami juga menekankan pentingnya doa
hening. Akhirnya romo mengijinkan kami untuk PD di gereja. Luar biasa,
ALLAH SANGGUP MERUBAH HATI.
Banyak hal juga yang kami alami, kalau mau
mengadakan kegiatan kadang-kadang kami ditentang, yang dikatakan: PD
suka cari nama atau apaun juga.Hal ini sungguh berbeda dengan di gereja
Kristen lainnya, jika umat berinisiatif mengadakan sesuatu kegiatan,
maka gembala sidang akan sangat mendukung kegiatan itu baik dana maupun
bimbingan, sehingga kegiatan umat sungguh-sungguh hidup dan umat
memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap gerejanya.
Saya juga tidak munafik, bahwa saya juga
sering hadir dalam KKR di Go Skate, Tambak Sari, hotel-hotel di
Surabaya dan yang lainnya. Saya juga mengakui, bahwa suasana pujian dan
penyembahan saat KKR itu merasakan keramahan dari jemaat gereja lain,
kalau kita datang kita disalami, diajak ngobrol (bandingkan dengan misa
yang kaku, dan umatnya cuek satu sama lain, yang habis dengerin kotbah
lalu ribut di parkiran). Saya juga dengar banyak pengajaran
dari mereka, tiap pagi saya dengar Bethany di Radio Bahtera Suara Yuda,
pengajaran akhir jaman Peter Condro, saya juga ikut.
Namun saya tetap sadar, bahwa saya
mengalami jamahan kuasa Tuhan pertama kali di gereja Katolik, dan
SEKALIPUN GEREJA LAIN NAMPAK GEMERLAP, SAYA MAU TETAP SETIA. SAYA TIDAK
TUTUP MATA TERHADAP KEKURANGAN DAN KELEMAHAN GEREJA KATOLIK, TETAPI
MARILAH KITA PERBAIKI BERSAMA-SAMA SEGALA SESUATU SEHINGGA MENJADI SATU
TUBUH Kristus YANG HIDUP BUKAN SEPERTI RAKSASA YANG BOBOK (Tidur)
Seringkali saya mengalami penyembuhan
fisik, ketika saya menyambut komuni kudus dalam Ekaristi (hal ini tidak
ada di gereja lain). Saya juga mengalami penyembuhan batin ketika
menerima kuasa pengampunan melalui Sakramen Tobat (cuma gereja Katolik
yang ada), dan banyak hal lain mengenai sakramen, liturgi gereja yang
hikmat, dan hal lain.
Karena itu, saya mengajak anda semua untuk
membangun Gereja Katolik supaya semakin penuh urapan Kuasa Roh Kudus.
Mungkin anda pernah mengalami kekecewaan dengan gereja, imam, atau
pengurus lingkungan dan lain sebagainya, namun hal itu jangan membuat
kita jatuh, malah kita harus mau memperbaiki segala sesuatunya. Ladang
di Gereja Katolik masih terbuka lebuarrr.
Saya juga mengingatkan bagi anda yang
masih suka jajan, kalau anda tidak sungguh-sungguh memahami dasar-dasar
ajaran gereja Katolik, anda akan mudah hanyut dengan petikan-petikan
ayat Alkitab yang kadang disalahgunakan.
Coba anda perhatikan uraian berikut ini,
dan jangan sampai kita yang ada di pembaharuan Karismatik terjebak
dalam 'Teologi Sukses', dengan gejala-gejala sebagai berikut:
Berlomba
membangun gedung gereja yang besar dan mewah dengan biaya milyaran
rupiah serta mengadakan acara-acara yang di hotel berbintang dengan
dihiasi segala bentuk glamour seperti showbiz. Ibadatnya
lebih didominasi oleh pujian dan penyembahan kepada Allah yang luar
biasa. Penekanan pada Allah yang luar biasa. Penekanan pada Allah yang
maha besar dan maha kaya, hal ini diiringi dengan kebaktian kebangunan
rohani yang menekankan berkat Allah dan kesembuhan ilahi serta
demonstrasi mujizat-mujizat.
Lagu-lagu yang
dinyanyikan umumnya bertemakan menyembah Allah yang Mahatinggi dan
pengakuan diri sebagai anak Raja. Penekanan pada mujizat ilahi sangat
diutamakan, khususnya dengan mempromosikan ayat "bahwa tidak ada yang
mustahil bagi Allah," maka tidak ada yang mustahil bagi manusia untuk
mengharapkan mujizat baik mujizat kesembuhan maupun mujizat kekayaan
dan kemakmuran hidup.
Kotbah-kotbahnya
sangat menyinggung uang dan menekankan pemberian persembahan terutama
berbentuk persepuluhan, dengan motivasi agar "makin banyak memberi
makin banyak berkat diterima." Akibatnya terjadi penumpukan dana yang
besar, yang umumnya dimanifestasikan pada bangunan gereja dan kehidupan
para pendetanya yang serba berkelimpahan. Praktek-praktek persembahan
ini sering diiringi dengan kesaksian-kesaksian menerima berkat, sukses
dagang atau kesembuhan setelah memberi persepuluhan.
Dalam ibadat
juga sering ditonjolkan kesaksian-kesaksian orang kaya yang bertobat
atau yang diberkati usahanya. Dan karena penekanan yang kuat pada
sukses materi dan uang, maka terjadi pemujaan pada yang kaya termasuk
perusahaan-perusahaan dan sebagai konsekuensinya terjadi sekularisasi
dan komersialisasi agama. Penonjolan
tokoh-tokoh panutan tertentu: pengkultusan "nabi-nabi" tertentu. Jadi
ajarannya lebih bergantung pada ucapan tokoh-tokoh itu dari pada yang
dikatakan Firman Tuhan.
Sekalipun saya juga
pernah mengalami berbagai benturan dengan hirarki gereja, namun sampai
saat ini saya tetap akan setia kepada Yesus melalui Gereja Katolik, di
mana saya merasakan begitu besar kuasanya.(credit: Yohanes)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar