Jumat, 17 Oktober 2014

Paus Fransiskus Mengunjungi Basilika Santa Maria Maggiore

 Berita Terbaru Dunia
 
Setelah terpilih sebagai paus yang baru, Fransiskus yang sudah berusia 76 tahun itu memantapkan hati untuk keluar dari Vatikan dengan tujuan untuk berdoa di gereja Katolik yang ada di Roma.

Paus berdarah Argentina itu mengunjungi Basilika Santa Maria Maggiore untuk berdoa di depan Salus Populi Romani. Simbol ini sendiri adalah sebagai lambang pembela dari para kaum wanita.

Kehadiran Paus ini juga ternyata mengejutkan banyak pendeta yang ada di sana. Bahkan, seorang pendeta menuturkan bahwa dirinya baru tahu Paus akan datang 10 menit sebelum dirinya tiba.

“Dia berbicara dengan kami seperti ayah. Kami tahu dia akan datang sekitar 10 menit,” tukas pendeta Ludovico Melo.

Selama ini, paus pertama asal Amerika ini juga bertugas sebagai Uskup Roma. Ia dianggap berjasa karena berhasil melakukan gebrakan terhadap tradisi selama 1300 tahun .

Selain dirinya yang berasal dari luar Eropa, ia juga memilih nama Fransiskus secara perdana. Paus Fransiskus memang bisa dikatakan sebagai sosok yang sederhana. Ia tidak banyak berbicara, selain memohon doa agar selalu mampu menjalankan tugaasnya dengan baik. Ia juga bahkan mengucapkan banyak terima kasih kepada Paus Emeritus Benediktus ke XVI, yang saat ini ada di Kastil Gandolfo untuk menikmati masa pensiunnya setelah resmi mundur dari jabatannya pada tanggal 28 Februari lalu.

Masyarakat Amerika Latin pun mengaku senang dengan penunjukkan Jorge Mario Bergoglio untuk menggantikan Paus Emeritus Benediktus ke-XVI.

Sementara itu, Nicolas Maduro, Presiden sementara Venezuela mengklaim bahwa Hugo Chavez turut andil dalam membantu penunjukkan Bergoglio sebagai Paus yang baru.

“Kami yakin bahwa komandan kami (Hugo Chavez) diminta untuk berhadapan langsung dengan Kristus,” tutur Maduro.

“Sesuatu memang sudah mempengaruhi pemilihan Paus dan seseorang yang berada di samping Kristus meamng mengatakan kepadanya bahwa memang sepertinya sudah saatnya kesempatan diberikan untuk Paus Amerika Selatan.”

Maduro sendiri sepertinya terus memuji nama Chavez yang baru saja tutup usia pada tanggal 5 Maret lalu.

Penunjukkan Kardinal Jorge Mario Bergoglio memang memberikan kejutan kepada umat Katolik Roma. Pasalnya, ia menjadi paus pertama yang berasal dari luar Eropa. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat konservatif di mana ia anti sekali dengan pengadopsian anak yang dilakukan oleh pasangan sesama jenis dan pernikahan sesama jenis.

Bunda Maria, Bunda Kerahiman, Doakanlah Keluarga Kami!



Dewasa ini, sudah bukan rahasia lagi, jika ada banyak keluarga yang retak, bahkan yang kemudian berpisah. Kita mungkin tidak perlu jauh-jauh untuk mencari contohnya, sebab bisa jadi itu terjadi dalam lingkaran kerabat kita, bahkan keluarga kita sendiri. Mengapa dan bagaimana hal itu dapat terjadi, tidaklah sama antara suatu keluarga dengan yang lainnya. Tetapi ada satu akar yang sama yang menjadi penyebabnya, yaitu ketika tidak ada lagi kerahiman, atau belas kasih sejati, yang dihidupi dalam keluarga tersebut. Kerahiman atau belas kasih merupakan sifat Allah yang paling utama, sebab Allah menyatakan diri-Nya sebagai Kasih (1Yoh 4:8). Tanpa melibatkan Allah, yang adalah Kasih yang mempersatukan ini, keluarga Kristiani akan kehilangan arah dan pedoman, sehingga tatkala ada masalah ataupun perselisihan antara anggota- anggotanya, masing-masing pihak akan cenderung memusatkan perhatian kepada kepentingan dan kehendaknya sendiri, dan bukan kepada kebaikan bersama.

Kerahiman Ilahi, itulah yang perlu kita mohon bagi keluarga kita. Agar dengan bersandar kepada kerahiman Allah, kita dimampukan untuk menghidupi dan menerapkan sifat kerahiman itu di dalam keluarga kita. Dalam hal inilah menjadi pas, jika kita melihat teladan Bunda Maria, yang telah terlebih dahulu menghidupinya dan menerapkannya dalam Keluarga Kudus di Nazaret, dan yang hingga kini terus mengambil bagian dalam mewujudkan rencana Sang Kerahiman Ilahi itu dalam sejarah umat manusia. Peran Bunda Maria ini khusus dan istimewa, justru karena Tuhan Yesus menghendakinya demikian. Ia menghendaki agar Bunda Maria, Bunda-Nya menjadi Bunda Kerahiman bagi kita semua, agar kita dapat belajar bahwa sifat kerahiman itu, bukan hanya milik Allah sendiri, namun juga dapat menjadi milik kita manusia. Sebab dengan menerapkan sifat kerahiman itu dalam hidup kita, kita diubah sedikit demi sedikit untuk menjadi semakin menampakkan Allah Sang Kerahiman, dalam diri kita. Bunda Maria adalah manusia pertama yang telah menjadikan kerahiman Allah itu sebagai kesatuan yang tak terpisahkan dalam hidupnya sendiri, dan karena itu, marilah kita mengikuti teladannya.

Mengapa Maria disebut Bunda Kerahiman?

Mungkin jawaban sederhananya adalah: karena Bunda Maria menyatakannya demikian kepada sejumlah orang pilihan, yang oleh izin Allah, menerima wahyu pribadi, untuk meneguhkan secara eksplisit apa yang dikehendaki Allah untuk dipahami oleh umat-Nya, berkenaan dengan prinsip ajaran yang telah disampaikan oleh Wahyu Allah dalam Kitab Suci. Yaitu bahwa sifat Allah yang terutama adalah belas kasih dan Allah menghendaki agar kita, sebagai murid Kristus, untuk juga berbelas kasih. Untuk maksud itulah Allah memberikan contoh yang sempurna, yaitu Bunda Maria.

Dalam buku hariannya, St. Faustina menuliskan pengalaman rohaninya, saat mendoakan doa novena bagi intensi bapa pengakuannya. Di akhir doa novena itu, saat ia mendaraskan doa Salam, ya Ratu, ia melihat Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dengan menggendong Kanak-kanak Yesus, sambil berkata, “Aku bukan hanya Ratu Surga, tetapi juga Bunda Kerahiman dan juga Bunda-mu.”1 Perkataan ini serupa dengan apa yang pernah disampaikan oleh Bunda Maria kepada St. Brigita dari Swedia di abad ke-14, “Akulah Ratu Surga dan Bunda Kerahiman; akulah kesukaan bagi orang-orang benar, dan pintu yang melaluinya para pendosa akan dibawa kepada Tuhan.”2 Perlindungan Bunda Maria sebagai ibu orang beriman, dan Bunda Kerahiman juga kembali dinyatakan oleh Bunda Maria, kepada St. Juan Diego dari Guadalupe di abad ke-16, dan kepada St. Bernadette Soubirous di abad ke-19. Maka, walau istilah Bunda Kerahiman mungkin dianggap baru oleh sejumlah orang, namun sebenarnya telah sejak abad awal, Gereja memohon kepada Bunda Maria, untuk memberikan perlindungannya dengan doa-doa syafaatnya. Doa tersebut dikenal dengan sebutan Sub Tuum Praesidium, yang berbunyi:
“Di bawah kerahimanmu kami berlindung, O Bunda Tuhan. Jangan menolak permohonan kami dalam kesesakan, tetapi bebaskanlah kami dari mara bahaya, [o engkau]yang suci dan terberkati.”3
Dr. Robert Stackpole, direktur The John Paul II Institute of Divine Mercy, menjelaskan bahwa ada 4 alasan mengapa Bunda Maria disebut sebagai Bunda Kerahiman, yaitu4:
  1. Sebab Bunda Maria yang dikandung tidak bernoda dosa, diciptakan oleh Sang Kerahiman Ilahi untuk turut melakukan karya Kerahiman Allah.
  2. Sebab Allah telah memilihnya untuk menjadi Ibu Yesus, Sang Kerahiman Ilahi, dan Bunda Maria-lah yang telah melahirkan Yesus itu di dunia.
  3. Sebab Bunda Maria melaksanakan karya kerahiman Allah, dengan menunjukkan bagaimana caranya untuk menjadi murid Kristus yang sejati.
  4. Sebab Bunda Maria senantiasa menjadi pendoa syafaat bagi kita, yang membawa permohonan- permohonan kita kepada Allah.

Bunda Maria diciptakan tiada bernoda untuk turut melakukan karya kerahiman Allah

Injil mengajarkan kepada kita, bagaimana Allah sendiri telah memilih Bunda Maria, dan memenuhinya dengan rahmat-Nya. “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu”, yang kita doakan dalam doa Salam Maria, diambil dari salam yang disampaikan oleh malaikat utusan Tuhan kepada Bunda Maria, saat memberikan Kabar Gembira kepadanya. “Hail Mary, full of grace, the Lord is with you”, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh LAI menjadi, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (lih. Luk 1:28). Namun di sini kita menangkap intinya, yaitu Allah memberi salam penghormatan kepadanya, dan menyebutnya sebagai seseorang yang dikaruniai dengan rahmat Allah, dan yang disertai oleh Allah sendiri. Salam semacam ini tidak pernah disampaikan Allah kepada siapapun yang lain. Kepenuhan rahmat Allah yang dalam diri Bunda Maria juga merupakan kekhususan baginya, yang diberikan Allah sehubungan dengan tugas istimewa yang dipercayakan kepadanya, yaitu untuk menjadi Bunda Kristus yang adalah Allah, dan karena itu, Maria disebut sebagai Bunda Allah.

Karena keistimewaan ini, maka apapun dalam diri Bunda Maria, memang adalah ciptaan Sang Kerahiman Ilahi, dan diperuntukkan bagi karya Kerahiman Ilahi. Tak ada mahluk ciptaan yang lain, yang dengan sempurna menyatakan kerahiman Allah, selain daripada Bunda Maria yang dikandung tanpa noda. Sebab kerahiman Allah yang tiada terbatas itulah yang memungkinkan Bunda Maria menerima rahmat pengudusan yang sempurna, bahkan sejak terbentuk dalam rahim ibunya, agar ia sungguh-sungguh layak mengemban tugas sebagai Bunda Putera Allah yang kudus. Bunda Maria kemudian menanggapi rahmat Allah yang sungguh luar biasa ini, dengan kesediaannya untuk taat dan melaksanakan kehendak Allah di sepanjang hidupnya. Ketaatan Bunda Maria kepada Allah inilah yang menjadikannya kudus. Bunda Maria menggenapi secara sempurna apa yang diajarkan oleh Rasul Petrus, bahkan sebelum Rasul Petrus mengajarkan hal ini kepada Gereja:

Doa Kepada Keluarga Kudus

sidang uskup
Doa untuk Sinode Luar biasa Para Uskup di Roma tentang Keluarga: 5 – 19 Oktober 2014
(Didoakan sejak tanggl 29 Sept hingga 19 Okt 2014)



Yesus, Maria, dan Yusuf,
Kepadamu kami merenungkan
Cinta kasih yang sesungguhnya,
kepadamu kami menghadap dengan penuh iman.
Keluarga Kudus Nazareth,
Buatlah keluarga kami boleh menjadi tempat untuk bersekutu,
berdoa, dan mengembangkan hidup rohani.
Buatlah keluarga kami menjadi gereja-gereja kecil Mu
Keluarga Kudus Nazareth,
Semoga semua keluarga tidak mengalami lagi kekerasan,
penolakan, dan perpecahan:
Bagi mereka yang pernah disakiti atau dilecehkan,
semoga mereka dapat menemukan penghiburan dan penyembuhan
Keluarga Kudus Nazareth,
Dalam rangka menyambut Sinode para Uskup,
Ingatkanlah kami kembali akan kesucian dan kesatuan dari sebuah keluarga
dan indahnya rencana Tuhan di dalamnya.
Yesus, Maria, dan Yusuf,
Kiranya Engkau berkenan mendengarkan doa kami.
Amin.

Menjamah Yesus dalam Ekaristi



Credit: Iman Katolik - Mujizat-mujizat di jaman Modern


Aku berjumpa dengan Yesus melalui dua cara itu. Dan aku ingat sekali lagi akan kisah wanita yang menyentuh jumbai jubah Yesus. Sekarang aku ingin menceritakan beberapa peristiwa yang dapat menjelaskan gagasan Injil ini.
Salah satunya ialah kisah mengenai seorang imam muda. Ia menelepon aku. Dari nadanya tampak bahwa ia sangat cemas dan takut. Ia baru saja tahu bahwa selaput suaranya kena kanker dan dalam tiga minggu ia harus menjalani operasi mengangkat selaput itu. Ia berkata bahwa ia putus asa. Baru enam tahun yang lalu ia ditahbiskan.

 
Ketika aku berdoa bersamanya, aku merasa Tuhan mau agar aku berbicara dengannya mengenai Ekaristi. Aku berkata, "Pastor, aku dapat berdoa bersama Pastor sekarang melalui telepon. Tetapi tadi pagi bukankah Pastor berjumpa dengan Yesus?

Bukankah Pastor berjumpa dengan-Nya setiap pagi?" Waktu itu aku tidak tahu bahwa pastor itu tidak merayakan Ekaristi setiap hari.

Kukatakan kepadanya, "Pastor, setiap hari kalau Pastor merayakan Ekaristi, kalau Pastor mengambil Hosti Suci, memakannya, Pastor berjumpa dengan Yesus. Wanita dalam Injil hanya menyentuh jumbai jubah-Nya. Pastor menjamah Yesus dan menerima-Nya masuk ke dalam tubuh. Pastor menerima-Nya Kukatakan kepadanya, "Pergilah dan temuilah Yesus dalam Ekaristi. Aku tidak dapat mengatakan kepada siapa pun bahwa seseorang akan disembuhkan seperti harapannya, karena aku bukan Tuhan. Namun Yesus akan memberikan kekuatan kepada Ibu untuk menghadapi apa pun yang terjadi dalam hidup Ibu. Kalau Ia mau membawa Ibu melalui pintu kematian, Ia akan memberikan rahmat sehingga jalan itu akan ibu tempuh tanpa ketakutan. Dan kalau Ia menghendaki Ibu terus hidup, Ia akan menganugerahkan rahmat untuk hidup." Tanpa sepengetahuanku, iajuga mencari Pastor Kevin dan pastor itu mengatakan hal yang sarna kepadanya.

Kutanyakan kepadanya, "Apa yang teIjadi?" Dan ia berkata, "Lihat. Pagi tadi saya mencari Suster. Saya pergi ke misa seperti Suster katakan. Ketika saya maju untuk menyambut komuni, saya berkata kepada diriku sendiri, 'Sebentar lagi aku akan berjumpa dengan Yesus. Saya akan menerima-Nya dalarn tanganku dan saya akan mohon pertolongan kepada-Nya."

Ibu itu adalah seorang Katolik yang sering menyarnbut komuni. Namun kali ini ia memandang Hosti Suci dan berkata, "Saya tahu bahwa Engkau sungguh hadir. Hari ini ambillah ketakutan ini dari diriku. Kalau Engkau berkenan, sembuhkanlah saya. Lakukanlah sesuatu bagiku." Lalu ia menceritakan kepada-ku, "Ketika saya

Kesetiaan dalam Gereja Katolik

Credit: Iman Katolik - Yohanes



Akhir-akhir ini sering muncul pertanyaan di kalangan Karismatik Katolik dan Sel KTM mengenai sah/tidaknya baptisan Gereja Katolik, dan masih banyak kasus 'penyeberangan' yang lain. Saya tidak ingin membahas hal itu, hanya saja saya sangat prihatin, karena masih ada saja orang-orang Karismatik yang mudah terombang-ambing dan terseret ajaran gereja lain, sayangnya di Indonesia masih ada hamba Tuhan dari Gereja lain yang suka sekali untuk mencari domba-domba dari gereja Katolik. SAYA TIDAK MENGATAKAN BAHWA GEREJA NON KATOLIK YANG SALAH, TETAPI ALANGKAH BAIKNYA KALAU KITA SALING MENGHARGAI MASING-MASING AJARAN, DAN TIDAK MEREBUT DOMBA-DOMBA DARI KANDANG LAIN. Hal ini sesuai dengan Mazmur 133, alangkah baiknya kalau saudara se-iman hidup rukun bersama. Saya akan share pentingnya kesetiaan pada gereja Katolik (bukan berarti fanatisme sempit).
Singkat cerita, saya lahir dan dibesarkan di Madiun, ketika umur 5 th kakak saya sakit dan dirawat di RS Katolik Panti Bagiya, sampai akhirnya meninggal. Melalui rumah sakit tersebut, kami mulai mengenal gereja Katolik (sebelumnya Papa ke Klenteng, dan Mama di Pantekosta). Secara rutin tiap minggu para suster Misionaris Claris dari rumah sakit itu memberikan pelajaran agama bagi kami sekeluarga, akhirnya kelas 2 SD, saya sekeluarga dibaptis di Gereja Katolik.
Dari tahun ke tahun perkembangan kami biasa-biasa saja, tetap ke gereja tiap Minggu, juga misa harian, tetapi kami tidak sungguh-sungguh mengalami kehadiran Yesus yang riil dalam kehidupan sehari-hari. Sampai ketika kelas 2 SMP, saya sekeluarga mengalami masalah yang cukup berat, karena suatu kasus papa ditahan selama 3 tahun. Saya benar-benar kehilangan saat itu, kehilangan figur papa yang baik. Mama harus bekerja sendiri untuk menyekolahkan saya dan adik.
Saya benar-benar kecewa, bahkan saat yang sulit itu, saya memandang bahwa Gereja juga tidak memberi perhatian serius terhadap masalah keluarga kami. Sekalipun demikian, KAMI TETAP SETIA pada gereja.Ketika mau ke SMA (saat ini SMU), mama mengatakan kalau berat untuk menyekolahkan saya lagi, saya mulai berpikir untuk berhenti sekolah dan bekerja sebagai loper koran (ada teman misdinar yang jadi loper koran juga). Tetapi Tuhan itu sungguh baik, Dia besar dan ajaib perbuatanNya, ada satu  keluarga yang mau mendukung biaya pendidikan saya sampai selesai S1. Terus terang kami heran, keluarga ini bukan tergolong sanak saudara, tetapi dia mau mengorbankan biaya dan waktu untuk membimbing saya dan saya tidak jadi loper koran.
 
Melalui keluarga itu kelas 2 SMA saya mulai mengenal Karismatik. Sekitar th 90an diadakan SHBDR(Seminar Hidup Baru Dalam Roh) di Madiun, baik dari Suster Karmel maupun team BPK (Badan Pekerja Karismatik)  Surabaya datang untuk memberikan pengarahan.Saya mulai mengalami JAMAHAN KASIH YESUS yang sesungguhnya, saya mulai mengalami penyembuhan dari berbagai macam luka batin yang ada sejak dalam kandungan sampai saat itu.
Tahun 1991 saya pindah ke Surabaya untuk kuliah, di Surabaya saya bergabung dengan PD Gembala Yang Baik, karena dekat dengan rumah. Di sini saya juga mengalami kasih persaudaraan yang didasari oleh kasih Kristus. Selain di PD saya juga mulai bergabung dengan sel sekitar th 1993, saat itu masih dipimpin Arthur. Dalam perkembangan ini saya juga mulai ikut melayani di PD sebagai pemusik gitar dan saya merasakan pertumbuhan rohani yang baik.
Dalam upaya mengembangkan PD, saya juga mengalami berbagai benturan dari pihak romo, sering dalam kotbahnya romo menyinggung, bahwa PD koq doa melulu tidak mau kerja sama dengan Mudika, PD itu sok suci baca Alkitab tetapi tidak dilaksanakan, anggota PD lebih mementingkan PD dari pada Misa harian, PD itu kalau doa ribut sekali, bahkan pernah hampir dilarang untuk rapat di sekretariat Paroki, dan banyak hal lainnya yang memang ada benarnya juga. Bahkan th 1997 ketika kami tidak ada tempat untuk persekutuan dan kami harus meminjam tempat di Balai Paroki, romo-romo saat itu keberatan. Saat itu saya berdoa sama Tuhan, "Tuhan kalau PD ini Engkau yang membangun, Engkau juga yang menyediakan." Saya mengalami penolakan dan melalui perdebatan, beberapa hal misalnya; romo keberatan, bahwa muda-mudi seharusnya belajar untuk mencari Allah dalam keheningan, bukan dengan tepuk tangan sorak sorai yang gegap gempita. Lalu saya terangkan, bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kami juga menekankan pentingnya doa hening. Akhirnya romo mengijinkan kami untuk PD di gereja.  Luar biasa, ALLAH SANGGUP MERUBAH HATI.
Banyak hal juga yang kami alami, kalau mau mengadakan kegiatan kadang-kadang kami ditentang, yang dikatakan: PD suka cari nama atau apaun juga.Hal ini sungguh berbeda dengan di gereja Kristen lainnya, jika umat berinisiatif mengadakan sesuatu kegiatan, maka gembala sidang akan sangat mendukung kegiatan itu baik dana maupun bimbingan, sehingga kegiatan umat sungguh-sungguh hidup dan umat memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap gerejanya.
Saya juga tidak munafik, bahwa saya juga sering hadir dalam KKR di Go Skate, Tambak Sari, hotel-hotel di Surabaya dan yang lainnya. Saya juga mengakui, bahwa suasana pujian dan penyembahan saat KKR itu merasakan keramahan dari jemaat gereja lain, kalau kita datang kita disalami, diajak ngobrol (bandingkan dengan misa yang kaku, dan umatnya cuek satu sama lain, yang habis dengerin kotbah lalu ribut di parkiran). Saya juga dengar banyak pengajaran dari mereka, tiap pagi saya dengar Bethany di Radio Bahtera Suara Yuda, pengajaran akhir jaman Peter Condro, saya juga ikut.
Namun saya tetap sadar, bahwa saya mengalami jamahan kuasa Tuhan pertama kali di gereja Katolik, dan SEKALIPUN GEREJA LAIN NAMPAK GEMERLAP, SAYA MAU TETAP SETIA. SAYA TIDAK TUTUP MATA TERHADAP KEKURANGAN DAN KELEMAHAN GEREJA KATOLIK, TETAPI MARILAH KITA PERBAIKI BERSAMA-SAMA SEGALA SESUATU SEHINGGA MENJADI SATU TUBUH Kristus YANG HIDUP BUKAN SEPERTI RAKSASA YANG BOBOK (Tidur)
Seringkali saya mengalami penyembuhan fisik, ketika saya menyambut komuni kudus dalam Ekaristi (hal ini tidak ada di gereja lain). Saya juga mengalami penyembuhan batin ketika menerima kuasa pengampunan melalui Sakramen Tobat (cuma gereja Katolik yang ada), dan banyak hal lain mengenai sakramen, liturgi gereja yang hikmat, dan hal lain.
Karena itu, saya mengajak anda semua untuk membangun Gereja Katolik supaya semakin penuh urapan Kuasa Roh Kudus. Mungkin anda pernah mengalami kekecewaan dengan gereja, imam, atau pengurus lingkungan dan lain sebagainya, namun hal itu jangan membuat kita jatuh, malah kita harus mau memperbaiki segala sesuatunya. Ladang di Gereja Katolik masih terbuka lebuarrr.
Saya juga mengingatkan bagi anda yang masih suka jajan, kalau anda tidak sungguh-sungguh memahami dasar-dasar ajaran gereja Katolik, anda akan mudah hanyut dengan petikan-petikan ayat Alkitab yang kadang disalahgunakan.
Coba anda perhatikan uraian berikut ini, dan jangan sampai kita yang ada di pembaharuan Karismatik terjebak dalam 'Teologi Sukses', dengan gejala-gejala sebagai berikut:
Berlomba membangun gedung gereja yang besar dan mewah dengan biaya milyaran rupiah serta mengadakan acara-acara yang di hotel berbintang dengan dihiasi segala bentuk glamour seperti showbiz. Ibadatnya lebih didominasi oleh pujian dan penyembahan kepada Allah yang luar biasa. Penekanan pada Allah yang luar biasa. Penekanan pada Allah yang maha besar dan maha kaya, hal ini diiringi dengan kebaktian kebangunan rohani yang menekankan berkat Allah dan kesembuhan ilahi serta demonstrasi mujizat-mujizat.

Lagu-lagu yang dinyanyikan umumnya bertemakan menyembah Allah yang Mahatinggi dan pengakuan diri sebagai anak Raja. Penekanan pada mujizat ilahi sangat diutamakan, khususnya dengan mempromosikan ayat "bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah,"  maka tidak ada yang mustahil bagi manusia untuk mengharapkan mujizat baik mujizat kesembuhan maupun mujizat kekayaan dan kemakmuran hidup.

Kotbah-kotbahnya sangat menyinggung uang dan menekankan pemberian persembahan terutama berbentuk persepuluhan, dengan motivasi agar "makin banyak memberi makin banyak berkat diterima." Akibatnya terjadi penumpukan dana yang besar, yang umumnya dimanifestasikan pada bangunan gereja dan kehidupan para pendetanya yang serba berkelimpahan. Praktek-praktek persembahan ini sering diiringi dengan kesaksian-kesaksian menerima berkat, sukses dagang atau kesembuhan setelah memberi persepuluhan.

Dalam ibadat juga sering ditonjolkan kesaksian-kesaksian orang kaya yang bertobat atau yang diberkati usahanya. Dan karena penekanan yang kuat pada sukses materi dan uang, maka terjadi pemujaan pada yang kaya termasuk perusahaan-perusahaan dan sebagai konsekuensinya terjadi sekularisasi dan komersialisasi agama. Penonjolan tokoh-tokoh panutan tertentu: pengkultusan "nabi-nabi" tertentu. Jadi ajarannya lebih bergantung pada ucapan tokoh-tokoh itu dari pada yang dikatakan Firman Tuhan. 

Sekalipun saya juga pernah mengalami berbagai benturan dengan hirarki gereja, namun sampai saat ini saya tetap akan setia kepada Yesus melalui Gereja Katolik, di mana saya merasakan begitu besar kuasanya.(credit: Yohanes)

Kesetiaan dalam Gereja Katolik



Credit Artikel: Iman Katolik
Akhir-akhir ini sering muncul pertanyaan di kalangan Karismatik Katolik dan Sel KTM mengenai sah/tidaknya baptisan Gereja Katolik, dan masih banyak kasus 'penyeberangan' yang lain. Saya tidak ingin membahas hal itu, hanya saja saya sangat prihatin, karena masih ada saja orang-orang Karismatik yang mudah terombang-ambing dan terseret ajaran gereja lain, sayangnya di Indonesia masih ada hamba Tuhan dari Gereja lain yang suka sekali untuk mencari domba-domba dari gereja Katolik. SAYA TIDAK MENGATAKAN BAHWA GEREJA NON KATOLIK YANG SALAH, TETAPI ALANGKAH BAIKNYA KALAU KITA SALING MENGHARGAI MASING-MASING AJARAN, DAN TIDAK MEREBUT DOMBA-DOMBA DARI KANDANG LAIN. Hal ini sesuai dengan Mazmur 133, alangkah baiknya kalau saudara se-iman hidup rukun bersama. Saya akan share pentingnya kesetiaan pada gereja Katolik (bukan berarti fanatisme sempit).
Singkat cerita, saya lahir dan dibesarkan di Madiun, ketika umur 5 th kakak saya sakit dan dirawat di RS Katolik Panti Bagiya, sampai akhirnya meninggal. Melalui rumah sakit tersebut, kami mulai mengenal gereja Katolik (sebelumnya Papa ke Klenteng, dan Mama di Pantekosta). Secara rutin tiap
minggu para suster Misionaris Claris dari rumah sakit itu memberikan pelajaran agama bagi kami sekeluarga, akhirnya kelas 2 SD, saya sekeluarga dibaptis di Gereja Katolik.
Dari tahun ke tahun perkembangan kami biasa-biasa saja, tetap ke gereja tiap Minggu, juga misa harian, tetapi kami tidak sungguh-sungguh mengalami kehadiran Yesus yang riil dalam kehidupan sehari-hari. Sampai ketika kelas 2 SMP, saya sekeluarga mengalami masalah yang cukup berat, karena suatu kasus papa ditahan selama 3 tahun. Saya benar-benar kehilangan saat itu, kehilangan figur papa yang baik. Mama harus bekerja sendiri untuk menyekolahkan saya dan adik.
Saya benar-benar kecewa, bahkan saat yang sulit itu, saya memandang bahwa Gereja juga tidak memberi perhatian serius terhadap masalah keluarga kami. Sekalipun demikian, KAMI TETAP SETIA pada gereja.Ketika mau ke SMA (saat ini SMU), mama mengatakan kalau berat untuk menyekolahkan saya lagi, saya mulai berpikir untuk berhenti sekolah dan bekerja sebagai loper koran (ada teman misdinar yang jadi loper koran juga). Tetapi Tuhan itu sungguh baik, Dia besar dan ajaib perbuatanNya, ada satu  keluarga yang mau mendukung biaya pendidikan saya sampai selesai S1. Terus terang kami heran, keluarga ini bukan tergolong sanak saudara, tetapi dia mau mengorbankan biaya dan waktu untuk membimbing saya dan saya tidak jadi loper koran.
Melalui keluarga itu kelas 2 SMA saya mulai mengenal Karismatik. Sekitar th 90an diadakan SHBDR(Seminar Hidup Baru Dalam Roh) di Madiun, baik dari Suster Karmel maupun team BPK (Badan Pekerja Karismatik)  Surabaya datang untuk memberikan pengarahan.Saya mulai mengalami JAMAHAN KASIH YESUS yang sesungguhnya, saya mulai mengalami penyembuhan dari berbagai macam luka batin yang ada sejak dalam kandungan sampai saat itu.
Tahun 1991 saya pindah ke Surabaya untuk kuliah, di Surabaya saya bergabung dengan PD Gembala Yang Baik, karena dekat dengan rumah. Di sini saya juga mengalami kasih persaudaraan yang didasari oleh kasih Kristus. Selain di PD saya juga mulai bergabung dengan sel sekitar th 1993, saat itu masih
dipimpin Arthur. Dalam perkembangan ini saya juga mulai ikut melayani di PD sebagai pemusik gitar dan saya merasakan pertumbuhan rohani yang baik.
Dalam upaya mengembangkan PD, saya juga mengalami berbagai benturan dari pihak romo, sering dalam kotbahnya romo menyinggung, bahwa PD koq doa melulu tidak mau kerja sama dengan Mudika, PD itu sok suci baca Alkitab tetapi tidak dilaksanakan, anggota PD lebih mementingkan PD dari pada Misa harian, PD itu kalau doa ribut sekali, bahkan pernah hampir dilarang untuk rapat di sekretariat Paroki, dan banyak hal lainnya yang memang ada benarnya juga. Bahkan th 1997 ketika kami tidak ada tempat untuk persekutuan dan kami harus meminjam tempat di Balai Paroki, romo-romo saat itu keberatan. Saat itu saya berdoa sama Tuhan, "Tuhan kalau PD ini Engkau yang membangun, Engkau juga yang menyediakan." Saya mengalami penolakan dan melalui perdebatan, beberapa hal misalnya; romo keberatan, bahwa muda-mudi seharusnya belajar untuk mencari Allah dalam keheningan, bukan dengan tepuk tangan sorak sorai yang gegap gempita. Lalu saya terangkan, bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kami juga menekankan pentingnya doa hening. Akhirnya romo mengijinkan kami untuk PD di gereja.  Luar biasa, ALLAH SANGGUP MERUBAH HATI.
Banyak hal juga yang kami alami, kalau mau mengadakan kegiatan kadang-kadang kami ditentang, yang dikatakan: PD suka cari nama atau apaun juga.Hal ini sungguh berbeda dengan di gereja Kristen lainnya, jika umat berinisiatif mengadakan sesuatu kegiatan, maka gembala sidang akan sangat mendukung kegiatan itu baik dana maupun bimbingan, sehingga kegiatan umat sungguh-sungguh hidup dan umat memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap gerejanya.
Saya juga tidak munafik, bahwa saya juga sering hadir dalam KKR di Go Skate, Tambak Sari, hotel-hotel di Surabaya dan yang lainnya. Saya juga mengakui, bahwa suasana pujian dan penyembahan saat KKR itu merasakan keramahan dari jemaat gereja lain, kalau kita datang kita disalami, diajak ngobrol (bandingkan dengan misa yang kaku, dan umatnya cuek satu sama lain, yang habis dengerin kotbah lalu ribut di parkiran). Saya juga dengar banyak pengajaran dari mereka, tiap pagi saya dengar Bethany di Radio Bahtera Suara Yuda, pengajaran akhir jaman Peter Condro, saya juga ikut.
Namun saya tetap sadar, bahwa saya mengalami jamahan kuasa Tuhan pertama kali di gereja Katolik, dan SEKALIPUN GEREJA LAIN NAMPAK GEMERLAP, SAYA MAU TETAP SETIA. SAYA TIDAK TUTUP MATA TERHADAP KEKURANGAN DAN KELEMAHAN GEREJA KATOLIK, TETAPI MARILAH KITA PERBAIKI BERSAMA-SAMA SEGALA SESUATU SEHINGGA MENJADI SATU TUBUH Kristus YANG HIDUP BUKAN SEPERTI RAKSASA YANG BOBOK (Tidur)
Seringkali saya mengalami penyembuhan fisik, ketika saya menyambut komuni kudus dalam Ekaristi (hal ini tidak ada di gereja lain). Saya juga mengalami penyembuhan batin ketika menerima kuasa pengampunan melalui Sakramen Tobat (cuma gereja Katolik yang ada), dan banyak hal lain mengenai sakramen, liturgi gereja yang hikmat, dan hal lain.
Karena itu, saya mengajak anda semua untuk membangun Gereja Katolik supaya semakin penuh urapan Kuasa Roh Kudus. Mungkin anda pernah mengalami kekecewaan dengan gereja, imam, atau pengurus lingkungan dan lain sebagainya, namun hal itu jangan membuat kita jatuh, malah kita harus mau memperbaiki segala sesuatunya. Ladang di Gereja Katolik masih terbuka lebuarrr.
Saya juga mengingatkan bagi anda yang masih suka jajan, kalau anda tidak sungguh-sungguh memahami dasar-dasar ajaran gereja Katolik, anda akan mudah hanyut dengan petikan-petikan ayat Alkitab yang kadang disalahgunakan.
Coba anda perhatikan uraian berikut ini, dan jangan sampai kita yang ada di pembaharuan Karismatik terjebak dalam 'Teologi Sukses', dengan gejala-gejala sebagai berikut:
Berlomba membangun gedung gereja yang besar dan mewah dengan biaya milyaran rupiah serta mengadakan acara-acara yang di hotel berbintang dengan dihiasi segala bentuk glamour seperti showbiz
Ibadatnya lebih didominasi oleh pujian dan penyembahan kepada Allah yang luar biasa. Penekanan pada Allah yang luar biasa. Penekanan pada Allah yang maha besar dan maha kaya, hal ini diiringi dengan kebaktian kebangunan rohani yang menekankan berkat Allah dan kesembuhan ilahi serta demonstrasi mujizat-mujizat.
Lagu-lagu yang dinyanyikan umumnya bertemakan menyembah Allah yang Mahatinggi dan pengakuan diri sebagai anak Raja. Penekanan pada mujizat ilahi sangat diutamakan, khususnya dengan mempromosikan ayat "bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah,"  maka tidak ada yang mustahil bagi manusia untuk mengharapkan mujizat baik mujizat kesembuhan maupun mujizat kekayaan dan kemakmuran hidup.
Kotbah-kotbahnya sangat menyinggung uang dan menekankan pemberian persembahan terutama berbentuk persepuluhan, dengan motivasi agar "makin banyak memberi makin banyak berkat diterima." Akibatnya terjadi penumpukan dana yang besar, yang umumnya dimanifestasikan pada bangunan gereja dan kehidupan para pendetanya yang serba berkelimpahan. Praktek-praktek persembahan ini sering diiringi dengan kesaksian-kesaksian menerima berkat, sukses dagang atau kesembuhan setelah memberi persepuluhan.
Dalam ibadat juga sering ditonjolkan kesaksian-kesaksian orang kaya yang bertobat atau yang diberkati usahanya. Dan karena penekanan yang kuat pada sukses materi dan uang, maka terjadi pemujaan pada yang kaya termasuk perusahaan-perusahaan dan sebagai konsekuensinya terjadi sekularisasi dan komersialisasi agama.
Penonjolan tokoh-tokoh panutan tertentu: pengkultusan "nabi-nabi" tertentu. Jadi ajarannya lebih bergantung pada ucapan tokoh-tokoh itu dari pada yang dikatakan Firman Tuhan.
Sekalipun saya juga pernah mengalami berbagai benturan dengan hirarki gereja, namun sampai saat ini saya tetap akan setia kepada Yesus melalui Gereja Katolik, di mana saya merasakan begitu besar kuasanya.

PERANAN KATEKESE DALAM KARYA PASTORAL GEREJA

Komisi Kateketik Keuskupan Purwokerto - Y. Suroso

PENGANTAR
Tugas perutusan dasar Gereja adalah menjadi pelayan Sabda, yakni mewar-takan dan mewujudkan Injil di tengah-tengah masyarakat dalam situasi konkretnya. Tugas pelayanan Sabda itu sendiri selalu hidup dan tinggal dalam dunia dengan se-gala situasinya. Hal demikian berarti bahwa Gereja ikut ambil bagian untuk mena-ngani masalah-masalah kehidupan manusia yang merupakan wujud dan bukti pang-gilan sucinya.
Dewasa ini keterlibatan umat dalam melaksanakan pelayanan Sabda Gereja khususnya melalui karya katekese cukup menggembirakan. Agar pelayanan mereka dapat lebih berdaya guna bagi pengembangan iman umat, maka upaya dari para pelayan Sabda untuk memahami hakekat dan peranan katekese dalam keseluruhan tugas Pastoral Gereja kiranya akan mempunyai arti penting dan nilai tersendiri dalam upaya itu. 

Dengan demikian pelaksanaan pelayanan Sabda yang dikembangkan akan terlaksana secara benar, dan mendapat penanganan lebih lanjut secara memadai. Untuk membantu usaha itu, maka dalam naskah ini pertama-tama akan dikemuka-kan tentang pengertian katekese dan beberapa peristilahan. Kemudian berikutnya akan kita kaji bersama tentang katekese dalam tugas pastoral Gereja. Selanjutnya bagian akhir dari naskah ini dikemukanan tentang dasar dan isi katekese serta tang-gungjawab dan organisasi karya katekese. Dari kesemuanya itu diharapkan akan dapat menolong pemahaman dan usaha kita dalam melaksanakan pelayanan Sabda Gereja secara tepat dijaman modern ini.

 

I. PENGERTIAN KATEKESE DAN BEBERAPA PERISTILAHAN
 
A. Pengertian katekese
Menjadi Kristiani (= Katolik) berarti mengimani pribadi Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya, yang dihayatinya sebagai panggilan dan perutusan dari Kristus sendiri. Panggilan dan perutusan Kristus itu, dasarnya dapat kita temukan dalam Kitab Suci khususnya dalam Perjanjian Baru yang merupakan ungkapan pengalaman iman Ge-reja perdana. Sejak semula Tuhan Yesus “memanggil mereka yang dikehendaki-Nya sendiri, dan menetapkan dua belas orang untuk mengikuti-Nya serta diutus-Nya un-tuk mewartakan Injil” (Mrk 3:13-19, lih. Mat 10:1-42). Sebelum Yesus naik ke Surga, Ia mengutus para Rasul ke seluruh dunia, seperti Ia sendiri telah diutus oleh Bapa (lih. Yoh 20:21). 

Perintah Kristus kepada para Rasul, diantaranya: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:19-20). “Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15). Dari sebab itu, maka “paguyuban/himpunan orang-orang yang mengimani pribadi Yesus Kristus” (= Gereja) pada dasarnya mengemban tugas untuk mewartakan iman dan keselamatan yang telah diterimanya. Dengan kata lain, tugas perutusan dasar Gereja adalah menjadi pelayan Sabda, yak-ni mewartakan dan mewujudkan Injil di tengah-tengah masyarakat dalam situasi konkretnya, sesuai tugas dan panggilan mereka masing-masing.
Dalam melaksanakan tugas perutusan Gereja khususnya melalui bidang pewar-taan, kita sering menemukan istilah, diantaranya “kateketik.” Dalam rangka mema-hami pengertian dasar dari salah satu segi pewartaan Gereja, istilah itu perlu kita kaji terlebih dahulu. Kateketik berasal dari kata Yunani katechein, bentukan dari kata kat dan echo. Kat berarti pergi atau meluas, sedangkan echo berarti menggemakan atau menyuarakan keluar. Jadi katechein berarti tindakan atau kegiatan menggemakan atau menyuarakan keluar.
Istilah katechein semula digunakan oleh umum, namun lama-kelamaan diambil alih oleh umat kristen menjadi istilah khusus dalam bidang pewartaan Gereja. Kata katechein sendiri mengandung dua pengertian. Pertama, katechein berarti pewartaan yang sedang disampaikan atau diwartakan. Kedua, katechein berarti ajaran dari para pemimpin. Mengacu pada dua pengertian itu, dalam Kitab Suci Perjanjian Baru dapat kita temukan kata “pengajaran”, misalnya: “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka …… (Kis 2:42). Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada pada-nya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” (Gal 6:6). “Dan setiap hari me-reka (Rasul-rasul) melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis 5:42).
Kata katechein selanjutnya menjadi istilah teknis untuk pelbagai aspek ajaran Gereja. Perkembangan selanjutnya, dalam upaya pewartaan Kabar Gembira dan pe-nyampaian ajaran Gereja agar dapat terlaksana secara benar dan efektif, dikem-bangkanlah pemikiran secara sistematis dan paedagogis (= ilmiah). Pengembangan pemikiran secara ilmiah tentang upaya pewartaan Gereja itu, kemudian disebut “ka-teketik” sebagai disiplin ilmu. Sedangkan kegiatan dan prosesnya dalam menyam-paikan ajaran Gereja ataupun dalam rangka pendidikan iman umat disebut “kate-kese.” Oleh karena itu maka “katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar seorang Kristen semakin dewasa dalam iman.”
Dalam anjuran apostolik Catechesi Tradendae, Sri Paus Yohanes Paulus II me-negaskan:
“Katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen.”
Katekese kenyataannya mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Pada zaman dan tempat tertentu, katekese memiliki kekhususan serta tekanan tertentu pula. Walaupun demikian, sejak Gereja perdana hingga sekarang, lingkup pokok kar-ya katekese adalah tetap yakni dalam pelayanan Sabda Gereja (Pewartaan = Ke-rygma). Pokok pewartaannya juga tetap yaitu karya keselamatan Allah yang ter-laksana dalam diri Yesus Kkristus, yang puncaknya terlaksana dalam wafat dan Ke-bangkitan Kristus pula. Dalam karya pewartaan yang dilaksanakan oleh Gereja itu, sekaligus terkandung panggilan luhur bagi para pendengarnya untuk bertobat dan percaya serta menyerahkan diri kepada Allah yang mengerjakan keselamatan itu.

B. Beberapa peristilahan
Ada pelbagai macam istilah yang berhubungan dengan katekese. Oleh karena itu beberapa istilah yang sering kita jumpai berikut ini perlu diketahui agar karya ka-tekese lebih dipahami arti dan maknanya secara benar.
  • Katekese : Proses kegiatan pengajaran/pendidikan iman Katolik bagi calon permandian atau bagi umat.
  • Kateketik : Pemikiran sistematis dan paedagogis tentang pengajaran dan pen-didikan iman Gereja Katolik bagi umat manusia dalam situasi kon-kretnya.
  • Katekumenat : Masa persiapan atau masa pendidikan bagi para calon baptis/per-mandian.
  • Katekumen : Orang yang sedang mempersiapkan melalui pelajaran agama Ka-tolik untuk menerima Sakramen Baptis/Permandian (calon baptis).
  • Katekismus : Buku pelajaran iman yang dikeluarkan secara resmi oleh pimpinan Gereja. Ada yang bersifat universal, ada juga yang nasional bah-kan lokal. Isinya lebih menanamkan paham/pengertian dan kerap diurutkan dalam bantuk tanya jawab.
  • Katekis : Guru Agama/Pembina iman Katolik atau orang yang atas nama Gereja melaksanakan pelayanan Sabda Gereja atau mewartakan Sabda Tuhan.
  • Kateket : Sebutan untuk para pakar (orang yang ahli) di bidang kateketik.
Rangkuman
Seperti para murid Yesus yang dipanggil, dihimpun dalam kesatuan dengan-Nya dan diutus untuk mewartakan Injil, demikian halnya orang-orang yang mengimani pribadi Yesus Kristus (= Gereja) juga mendapat panggilan dan perutusan dari-Nya. Mereka mengemban tugas mewartakan iman dan keselamatan yang diterimanya. Dengan demikian tugas perutusan dasar Gereja adalah sebagai pelayan Sabda, yakni mewartakan dan mewujudkan Injil di tengah-tengah masyarakat dalam situasi kon-kretnya, melalui tugas dan panggilan mereka masing-masing.
Dalam pelaksanaan bidang pewartaan Gereja, istilah “kateketik” sering kita temui. Kateketik dari kata Yunani katechein yang berarti menggemakan atau me-nyuarakan keluar. Kata katechein sendiri mengandung dua pengertian: pewartaan yang sedang disampaikan atau diwartakan, dan ajaran dari para pemimpin. Dalam rangka upaya pewartaan Kabar Gembira yang lebih berdaya guna, maka dikembang-kanlah pemikiran secara sistimatis dan paedagogis (= ilmiah) tentang pengajaran dan pendidikan iman Gereja Katolik, yang kemudian disebut “kateketik” sebagai disiplin ilmu. Sedangkan kegiatan dan prosesnya dalam menyampaikan ajaran Gereja ataupun dalam rangka pendidikan iman umat disebut “katekese.” Lingkup pokok kar-ya katekese adalah pelayanan Sabda Gereja (Pewartaan = Kerygma). Sedangkan isi pokok pewartaannya adalah karya keselamatan Allah yang terlaksana dalam diri Yesus Kristus, yang puncaknya terlaksana dalam wafat dan kebangkitan Kristus pula. Agar pelaksanaan karya katekese lebih difahami arti dan maknanya secara benar, maka istilah-istilah yang berhubungan dengan katekese perlu dipahami dan diterap-kannya secara tepat.



II. K A T E K E S E DALAM TUGAS PASTORAL GEREJA
 
A. Karya Pastoral Gereja
 
Gereja adalah paguyuban atau himpunan Umat Allah yang mengimani pribadi Yesus Kristus, dalam melanjutkan dan mewujudnyatakan keselamatan Allah di dunia ini. Dalam mengarungi peziarahan hidupnya, Gereja mengemban kewajiban untuk mengembangkan kehidupan beriman dan mengembangkan dunia terus-menerus agar menjadi lingkungan hidup yang layak serta selaras dengan kehendak Allah. Kedua kewajiban itu nerupakan tugas pastoral Gereja, yakni dalam usaha mem-bimbing dan mengembangkan iman umat serta pelayanan atas dunia, bertolak dari situasi konkret umat dan dunia.

Gereja dalam mewujudkan tugas perutusannya melalui