Credit: P. Felix Supranto, SS.CC
Pada suatu hari, ada beberapa kelompok orang katolik berdiri di depan
pintu gerbang surga. Mereka rupanya sedang bertengkar karena meributkan
“siapa yang mempunyai hak untuk masuk surga lebih dahulu”. Kelompok itu
ternyata kelompok para pastor, para ilmuwan, dan para dermawan dari
Keuskupan Agung Jakarta.
Keributan itu begitu seru sampai terdengar di telinga malaikat.
Malaikat itu pun mendatangi mereka untuk membantu menyelesaikan masalah
mereka. Malaikat itu berkata : “Aku tahu apa yang kalian
ributkan. Sekarang katakan alasan kalian mengapa kalian merasa mempunyai
hak untuk masuk surga lebih dahulu”.
Kelompok para pastor : “Hai malaikat, tentu kami, para pastor
ini, memiliki hak yang pertama memasuki surga. Berdasarkan data sudah
jelas bahwa perkembangan umat di Keuskupan Agung Jakarta yang sampai
berjumlah lebih dari 400.000, yang tergabung dalam 63 paroki dan berada
dalam 8 dekenat, tentu merupakan hasil jerih payah pelayanan kami yang
tanpa lelah”.
Kelompok ilmuwan : “Tuhan pasti sangat berkenan dengan
ilmu-ilmu yang kami kembangkan dan bermanfaat bagi banyak orang. Tanpa
ilmu-ilmu yang kami kembangkan banyak orang akan sengsara. Tanpa
ilmu-ilmu yang bermanfaat dari kami, pasti kota Jakarta sudah terendam
air. Banyak warga akan meninggal dalam umur muda”. Karena itu, jelaslah
kami, para ilmuwan, mempunyai hak istimewa, untuk masuk surga lebih
dahulu.”
Kelompok para dermawan: “He… he…. he…. kami, para dermawan,
tentu yang mempunyai tiket pertama masuk surga. Alasannya : Tanpa
sumbangan kami, Agama Katolik tidak mungkin berkembang. Bayangkan tanpa
kolekte dari kami, mana mungkin Gereja bisa hidup. Tanpa sumbangan dari
kami, mana mungkin gereja-gereja dibangun. Demikian juga, ilmu
pengetahuan tidak akan berkembang tanpa donasi kami. Kami, para
dermawan, ini selalu dicari ketika para pastor mau membuat kegiatan
rohani dan para ilmuwan ingin mengembangkan sesuatu demi kebaikan sesama
dan lingkungan.”
Malaikat itu manggut-manggut : “Wooo, kalian memang semua
hebat karena membangun wajah Keuskupan Agung Jakarta yang semakin
beriman, semakin bersaudara, dan semakin berbelarasa. Kalian, para
pastor, telah mengembangkan iman. Kalian, para ilmuwan, telah
mengembangkan persaudaraan dengan seluruh ciptaaan melalui ilmu-ilmu
kalian. Kalian, para dermawan, telah berbuat kasih sehingga hidup
manusia lebih baik. Ngomong-ngomong, siapa yang mengajari kalian bisa
berbuat sedemikian baik?”
Ketiga kelompok itu menjawab : “Ibu kami, yang tak henti-hentinya mengajari kami agar bisa menjadi orang yang berguna, baik, dan murah hati”.
Kemudian malaikat itu mendatangi sekelompok ibu-ibu yang sejak tadi diam saja. Malaikat itu bertanya : “Hai, kalian dari kelompok apa ? Mengapa kalian tidak ikut berebutan masuk surga lebih dahulu ?”.
Ibu-ibu itu menjawab : “Kami ini adalah kelompok para ibu dari Keuskupan Agung Jakarta. Kami sudah bahagia melihat anak-anak kami berhasil dan berguna bagi sesamanya. Kami rela dan tulus, biar anak-anak kamilah yang masuk surga lebih dahulu daripada kami”.
Ibu-ibu itu menjawab : “Kami ini adalah kelompok para ibu dari Keuskupan Agung Jakarta. Kami sudah bahagia melihat anak-anak kami berhasil dan berguna bagi sesamanya. Kami rela dan tulus, biar anak-anak kamilah yang masuk surga lebih dahulu daripada kami”.
Malaikat berkata : “Hai, ibu-ibu dari Keuskupan Agung
Jakarta, kerelaan dan ketulusan hati kalian lebih dari segala jasa
apapun. Kalian, telah membangun semangat gembala baik dan pelayanan yang
murah hati. Karena itu, kalianlah yang mempunyai hak masuk surga yang
pertama”.
Kesimpulan : “Kita dipanggil sebagai persekutuan “Communio”, untuk
melayani dengan ketulusan hati sebagai ungkapan iman dan persaudaraan.
Semangat yang kita hidupi adalah Gembala baik dan murah hati”.
Ayat emas : Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah
kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap
orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah (1 Yohanes
4:7).
Tuhan Memberkati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar